Website ini memuat informasi masa depan

Tulisan Mbeling: Jokowi Kw-2

 

Oleh  :  Agustinus Wahyono

Jokowi (Joko Widodo) adalah fenomena seorang kepala daerah . Mantan Walikota Surakarta, dan meraih prestasi sebagai walikota terbaik peringkat III dunia ini memang luar biasa. Kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2012 – 2017 dengan persaingan yang ketat. Gerilya-nya dengan cara blusukan selalu mengagetkan, dan menuai pro-kontra.

Juru Kampanye Di Beberapa PILKADA

Tahun 2013 Jokowi mendapat tugas baru dari partai pengusungnya pada PILKADA DKI 2012, yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Tugasnya adalah juru kampanye (jurkam) untuk calon gubernur yang diusung oleh PDIP. Tugas tersebut dilakoninya karena jiwa ‘ketimuran’, yakni “balas jasa” (politik etis?). Ini pun, tak pelak, menimbulkan pro-kontra di pelbagai kalangan.

Tugas jurkam pertama dilakoninya pada kampanye terbuka dalam PILKADA Jawa Barat untuk pasangan Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki (Paten) pada bulan Februari silam. Hasilnya, pasangan Paten menempati peringkat II.

Tugas jurkam kedua dilakoninya pada kampanye terbuka dalam PILKADA Sumatera Utara untuk pasangan Effendi Simbolon-Djumari Abdi pada bulan Maret. Hasilnya, kedua pasangan itu menempati peringkat II.

Tugas jurkam ketiga dilakoninya pada kampanye terbuka dalam PILKADA Jawa Tengah untuk pasangan Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko pada bulan Mei ini. Hasilnya, belum pasti. Dan hasil ini pun sama dengan tugas keempatnya pada PILKADA Bali untuk pasangan A.A. Ngurah Puspayoga – Dewa Nyoman Sukrawan (PAS).

Jokowi Kw Sekian

PDIP dan pasangan cagub-cawagub besutannya sangat boleh berharap sang fenomena (Jokowi) bisa menjadi ‘perhatian’ penting bagi para calon pemilih, mendongkrak perolehan suara, dan akhirnya memenangkan persaingan dalam PILKADA. Sayangnya, pada dua PILKADA (Jabar dan Sumut) hasil yang diraih hanya menempatkan cagub-cawagub milik PDIP itu di peringkat II, meskipun satu pasangan sudah menggunakan kemeja kotak-kotak ala Jokowi pada PILKADA DKI. Sementaradua PILKADA lainnya belum ada hasil.

Peringkat II, menurut PDIP, sudah lumayan. Masyarakat di dua daerah pemilihan (dapil) masih mempercayai cagub-cawagub binaan PDIP. Sang fenomena andil besar dalam meraih kepercayaan tersebut. Perjuangan masih berlanjut untuk kursi orang nomor satu di daerah-daerah lainnya, dan siapa tahu, menang. Ya, siapa tahu, kan?

Akan tetapi, jangan lupa, ada kemungkinan lain yang membuat sebagian masyarakat tidak memilih pasangan cagub-cawagub dari PDIP, walaupun Jokowi sudah memberikan dedikasi dan waktunya sebagai jurkam. Kemungkinan lain itu adalah sebagai berikut.

Pertama, Jokowi adalah Gubernur DKI Jakarta, bukan calon gubernur untuk Jawa Barat, Sumatera Utara, dan seterusnya. Tugas Jokowi hanya sebagai jurkam, bukan akan “menjabat” gubernur di luar DKI Jakarta. Jurkam tidak ubahnya seorang bintang iklan kecantikan. Iklan kecantikan pasti memasang sosok perempuan cantik, molek, dan segala kecantikannya. Apakah kecantikan seorang bintang iklan akan membuat cantik atau mempercantik konsumen (para perempuan)? Belum tentu. Kalau memang jelek, pesek, gembrot, hitam-legam, dst, ya tetap saja tidak akan berubah menjadi mirip dengan sang bintang iklan.

Kedua, karakter setiap manusia berbeda, apalagi sudah ‘berumur’, yang mana karakter tersebut sudah terbentuk. Nilai-nilai kemanusiaan yang mempengaruhi setiap manusia, jelas berbeda pula. Karakter seorang Jokowi pasti berbeda dengan karakter cagub-cawagub daerah lainnya. Karakter seorang Jokowi terbentuk dengan proses yang hanya Jokowi yang tahu. Apakah cagub-cawagub pernah mengalami proses kehidupan seperti atau mendekati proses pembentukan karakter seorang Jokowi?

Ketiga, prestasi, etos kerja dan integritas seorang Jokowi memang sudah tidak perlu diragukan. Persoalannya, bagaimana dengan prestasi, etos kerja, dan integritas orang selain Jokowi?

Keempat, ambisi kekuasaan dan ‘demi apa-siapa’. Biasa. Ambisi seorang Jokowi bisa terbaca melalui kinerja dan pernyataan-pernyataannya. Bukan sekadar ambisi yang cenderung ambisius. Lantas, bagaimana dengan cagub-cawagub yang bukan ‘fotokopi’ Jokowi?

Kelima, kualitas. Kualitas seorang Jokowi sudah jelas nomor satu. Lantas, bagaimana dengan kualitas cagub-cawagub bukan Jokowi? Tidak mungkin kualitasnya sama, apalagi Jokowi sudah terbukti secara internasional. Masyarakat sudah melek informasi, tentu saja tidak sudi memilih Jokowi Kw-2, Jokowi Kw-3, dan seterusnya.

Jokowi Dan Bukan Jokowi

Di dunia cuma ada satu orang Jokowi. Tiada yang lain. Kalau ada Jokowi lainnya, jelas lain lagi isinya. Selain Jokowi, maka sebut saja “Bukan Jokowi”. Masyarakat dapil tentu saja tidak ingin mendapat “Bukan Jokowi”.

Nah, kalau masyarakat tetap menginginkan Jokowi asli, atau seperti Jokowi bahkan melebihi Jokowi, tentu saja ini menjadi PR besar bagi PDIP. PR tersebut yaitu membentuk atau membina karakter-karakter manusia/kader yang bisa setara, bila perlu melebihi seorang Jokowi, meski tetap “Bukan Jokowi”. Persoalannya, ada berapa banyak calon pemimpin Indonesia yang mengalami pembentukan karakter-integritas seperti yang dialami Jokowi?

Oleh karenanya, perolehan suara dan peringkat nomor dua yang terjadi dalam PILKADA harus pula disadari bahwa masyarakat dapil mengharapkan Jokowi Kw-1 menjabat gubernur mereka. Kalau masih saja disodorkan “Bukan Jokowi” dengan kualitas nomor 2 (Kw-2) bahkan Kw-3, Kw-4, dan seterusnya, kenapa harus ngotot untuk memenangkan PILKADA di suatu daerah? Cobalah realistis, Bu.

Sumber  :  kompasiana.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: